Maria Walanda Maramis; The Power of Motherhood

Jeane B Rondonuwu

Sebuah refleksi  dari  perjuangan seorang Ibu

Oleh: Jeane Rondonuwu S.Sos

Saya  yakin berjuta Ibu masa kini memiliki rasa cinta terhadap keluarganya, tetapi saya lebih yakin dengan kekuatan cinta kaum Ibu  yang digerakkan oleh Ibu Maria Walanda Maramis pada jamannya. Ketulusan, naluri keIbuan dan kearifan budaya melalui luapan cinta kasihnya, tidak hanya sekedar sebuah gerakan eksklusif untuk keluarganya tetapi bersymbiosis-mutualis (saling ketergantungan)  dengan perjuangan peningkatan sumber daya yang berorientasi masa depan. Maria Walanda Maramis; the power of Motherhood. Dia adalah Ibu Negeri ini.

Dengan melahirkan Percintaan Ibu Kepada Anak Temurunnya (PIKAT) pada8 Juli 1917, Maria Walanda Maramis telah memberikan teladan sebagai seorang pemimpin dengan naluri seorang Ibu. Gerakan pemberdayaan Perempuan yang dilakukan melalui jalur pendidikan dan pengorganisasian dengan menggali potensi lokal Perempuan Sulawesi Utara, telah memberi makna dan motivasi tersendiri bagi para pemimpin masa kini.  Tahun 1919 PIKAT mulai beroperasi. Karena animo masyarakat Minahasa menyekolahkan anak Perempuannya makin tinggi, dua tahun kemudian  PIKAT mendirikan Sekolah Kepandaian Putri (SKP) yang pertama di Indonesia. Usaha Ibu Maria tidak sia-sia dan menjadi terkenal karena berhasil membuka cabang PIKAT di seluruh Indonesia dan Luar Negeri. Gubernur Jenderal Graaf van Limburg pun menjadi terpukau dan  bersedia mengunjungi Minahasa dan Wisma Maria (Huize Maria) untuk memberikan bantuan.

Peluang mengeyam pendidikan bagi anak Perempuan Minahasa waktu itu mulai terbuka lebar, antara lain ada yang meneruskan pendidikannyake Sekolah Pendidikan Guru dan bahkan ada yang masuk STOVIA( School tot Opleiding van Inlandse Artsen). Perempuan asal Amurang yakni Maria Thomas berhasil meraih ijasah STOVIA dan sekaligus menjadi Dokter Perempuan pertama di Indonesia.

Ibu Maria Walanda Maramis juga adalah seorang Jurnalis sejati. Merasa pentingnya media massa dalam mengkomunikasikan aspirasi-apirasinya. Sejak tahun 1917-1923, Ibu Maria banyak menulis artikel di surat kabar Tjahya Sijang tentang pembinaan terhadap keluarga dan termasuk artikel yang mengandung kritikan kepada Pemerintah Belanda. Talenta Jurnalisnya tak sampai disitu, Ibu Maria merintis diterbitkannya Surat Kabar De PIKAT  dan tahun 1925 Surat Kabar  De PIKAT  pun terbit perdana dengan berita-bertia seputar perjuangan Perempuan dan aktifitas PIKAT.

PIKAT tidak hanya sekedar membentuk para Perempuan menjadi terampil sebagai ibu rumah tangga yang baik dan menjadi motor pemberdayaan dan penguatan ekonomi keluarga, namun juga melahirkan generasi yang berani berbicara politik dan membawa aspirasi rakyat di Parlemen. Sebut saja Ibu Anthonette Wailan Waroh, akrap di sapa Netty seorang Perempuan Tonsea yang lahir di Aimadidi ikut merasakan dan meneruskan perjuangan Maria Walanda Maramis. Seorang Guru pada Holland Inlandse School (HIS) berhasil menjadi Anggota Dewan Kotamadya Manado dan kemudian diangkat menjadi Anggota Dewan Rakyat (Volksraad).

Anthonnette juga kemudian mengembangkan karier politiknya ke Ujung Pandang. Pernah bersama-sama DR Sam Ratulangi mengajar di Bone. Anthonnete atau dikenal sebagai Ny Wenas ini dipercanyakan menjadi Anggota Parlemen NIT (Negara Indonesia Timur) yang kemudian menjadi pelopor bergabungnya NIT kembali ke Indonesia. Atas jasanya tersebut, bersama Ketua Parlemen Arnold Manonutu, Anthonette dipercayakan menjadi Anggota Parlemen RIS.Berdasarkan Keputusan Presiden yang ditandatangani oleh Mohamad Hatta, tahun 1957, SK pensiun DPR di terbitkan. Ini menandakan bukti dari kebenaran keterlibatan Anthonette Waroh dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Anthonette juga pernah menjabat sebagai Ketua PIKAT Jakarta. Kesemuanya ini menandakan bahwa kepemimpinan Maria Walanda Maramis dengan naluri keIbuannya berhasil dan perlu diteladani.

Konsep Perempuan yang disamakan dengan figur Ibu dalam beberapa hal dapat menjadi kekuatan (power) . Dengan menggunakan istilah beberapa ahli seperti Erich Fronm dan Briffault yang mendukung konsep penemuan Bachofen atas hak Ibu (Bachofen’s Discovery of the Mother Right). Melalui konsep tersebut, Bachofen yakin bahwa awal evolusi manusia yang berkembang adalah system Matriarki (kekuasan kaum Perempuan), Bachofen menolak keyakinan bahwa masyarakat Partiarki (kekuasaan kaum Laki-laki) adalah tatanan yang secara alami terbentuk dan superioritas kaum Laki-laki terhadap kaum Perempuan terjadi dengan sendirinya.

 Narluri Marternal (Ibu sosial) seorang Ibu dalam memperhatikan anaknya yang tidak berdaya, adalah tanggung jawab terhadap perkembangan cinta maternal, yang meluas, tidak hanya untuk anaknya sendiri, tetapi juga dalam bentuk perasaan sosial dari altruism (sifat mendahulukan kepentingan orang lain).

Naluri ini merupakan salah satu faktor penting dari seluruh evolusi masyarakat, dimana bukan hanya cinta dan kelembutan yang memiliki asal usul dalam cinta maternal tetapi juga rasa belas kasih, kemurahan hati dan kebajikan. Struktur martriakal tidak dapat disamakan dengan matrisentris, yakni sebuah tatanan masyarakat dikarakterisasikan  oleh pengaruh sosial dan fisik relatif dari Perempuan.

Konsep dasar Matriarki adalah nilai kehidupan, kesatuan dan kedamaian . Perempuan dalam merawat anak, menyebarkan cintanya terhadap sesama. Dia memberikan seluruh anugerah dan imajinasi yang dimilikinya untuk melindungi dan menghiasi eksistensi manusia lainnya.

Prinsip Matriarki adalah bersifat universal, berlawanan dengan prinsip Partiarki yang cenderung pada pembatasan-pembatasan. Matriarki adalah basis prinsip kebebasan (kemerdekaan)  universal dan kesetaraan, damai, dan kemanusiaan yang lembut namun tegas. Ia juga merupakan basis kepedulian prinsipil terhadap kesejahteraan materi dan kebahagiaan duniawi.

 Dalam kebudayaan Minahasa,  ditemukan bahwa konsep universalitas yang mengajarkan kesetaraan, kebersamaan, kedamaian telah mengakar sejak masa lalu. Gerakan yang mendorong kesetaraan dan kedamaian ini banyak dimotori oleh kaum Perempuan sebagaimana kiprah Ibu Maria Walanda Maramis dengan mengorganisir PIKAT sebagai sebuah strategi masa depan dengan memberikan pendidikan kepada anak perempuan (yang pada waktu itu dimarjinalkan) agar menjadi trampil sekaligus beretika luhur dan berbudi pekerti.

Dalam konteks masa kini dan masa depan, ide dan karya Ibu MariaWalanda Maramis masih sangat relevan. Perjuangan ini harus kita lanjutkan. Mengingat masih banyak permasalahan Perempuan yang belum diselesaikan; seperti  rendahnya kualitas hidup dan peran Perempuan, tingginya tindak kekerasan terhadap Perempuan dan Anak. Rendahnya kesejahteraan dan perlindungan Anak, kesenjangan pencapaian pembangunan antara Perempuan dan Laki-laki, lemahnya kelembagaan dan jaringan pengarusutamaan gender dan anak, termasuk ketersediaan data terpilah dan rendahnya partisipasi masyarakat.

Peran Perempuan dalam Politik

Perempuan dan politik adalah wacana yang menarik diperbincangkan bahkan, menjadi suatu yang politis untuk diperdebatkan. Hal ini disebabkan oleh fakta, ketika politik ditempatkan di wilayah publik, definisi, konsep, dan nilai-nilai yang dikandungnya selalu menempatkan perempuan di luar area tersebut. Politik didefinisikan sebagai sesuatu yang negatif (politiking), afiliasi suatu partai politik, dan dihubungkan hanya dengan mereka yang berkuasa, di mana laki-laki mendominasinya.

Hingga kini, perkembangan wacana perempuan dan politik masih terjebak dalam perdebatan tentang partisipasi dan representasi, yang mengarah pada indikator normatif kuantitatif. Kuota 30 persen untuk reprensentasi politik perempuan, adalah salah satu indikator tersebut. Sebagai afirmative action (tindakan khusus), kuota memang tak boleh melupakan kualitas dari representasi tersebut. Tetapi harus disadari sungguh-sungguh, tuntutan kuota bersumber dari realitas sejarah panjang pendiskriminasian terhadap perempuan, melalui proses yang sistemik yang tidak akan berakhir hanya dengan “menunggu waktu bergulir” tanpa tindakan khusus.       Oleh karenanya, wacana tentang Perempuan dan Politik mestinya diletakkan dalam konteks penghormatan terhadap martabat kemanusian kaum Perempuan.

Maria Walanda Maramis tak hanya berjuang untuk kebebasan Perempuan mendapatkan pendidikan yang sama dengan Laki-laki dan membekali Perempuan dengan keterampilan untuk penguatan ekonomi keluarga, namun di lubuk hatinya yang paling dalam, Beliau menginginkan Perempuan Sulawesi Utara mendapatkan perlakuan yang sama dalam Politik dan jabatan publik. Perjuangannya semakin terjawab dengan hadirnya pemimpin Perempuan di arena Politik dan pemerintahan saat ini. Sang Ibu akan tersenyum menyaksikan kaumnya dan temurunnya mampu berkiprah dan berkarya membangun negeri ini, lebih khusus daerah tercinta Sulawesi Utara. Karena ’’bunga mawar tidak mempropagandakan harum semerbaknya, dengan sendirinya harum semerbaknya itu tersebar di sekelilingnya’’. Dirgahayu Bangsaku. MERDEKA!

 Penulis

Wartawan idmanado.com

 

 

 

 

Share This Post