Pagi Menjelang, Tidurlah Clara

Yus Panjang 1

Clara demikian dia selalu mengenalkan dirinya kepada tamu-tamunya. Terlahir di sebuah desa berlatar gunung api dengan udara sejuk dan tanah yang subur, Clara tumbuh sebagai gadis mekar nan cantik, seindah bunga-bunga yang terhampar di kebun belakang rumahnya. Layaknya gadis-gadis seusianya, Clara ingin melanjutkan sekolah ke kota, menempuh ilmu, mendalami pelajaran kesukaan dan kelak bisa bekerja sesuai dengan cita-citanya.

Namun apa daya, orang tuanya yang bekerja serabutan tak mampu membiayai pendidikan lanjutnya. Clara terpaksa membuang jauh cita-citanya, tinggal di rumah setelah tamat SMA. Hari-hari Clara diisi dengan cengkrama bersama teman-temannya. Terkadang bahkan seharian Clara menghabiskan waktu dengan pujaan hatinya, Robert, pemuda sedesa yang juga tak meneruskan sekolahnya.

Seringnya berduaan dengan Robert membuat pertahanan Clara jebol, bujuk rayu Robert yang kerap mengatakan sekali saja, membuat Clara, atas nama cinta melakukan hubungan yang belum selayaknya dilakukan. Awalnya tiada sesal hingga kemudian Robert berpamitan untuk melanglang buana, mengadu nasib di pulau lain yang jauh disana. Clara merasa kehilangan, bukan hanya Robert kekasih yang dicintainya melainkan juga separuh jiwanya sendiri.

Pucuk dicintai ulam tiba, ditengah kegalauan dirinya, datang tante Yulia. Orang sedesa mengenal tante Yulia sebagai perantauan yang sukses. Tak lama setelah berkarya di luar pulau, rumah tante Yulia segera direhab, dari kayu reyot menjadi bangunan tembok dengan gaya minimalis layaknya rumah-rumah modern di komplek perumahan seperti iklan di koran-koran. Secara rutin sebulan sekali, tante Yulia pulang menyambangi rumah di desanya sambil tak lupa mengajak anak-anak gadis tetangga juga desa-desa sebelah untuk turut mencari sukses di tanah seberang.

Datang sebagai penolong yang baik hati, tante Yulia menemui orang tua Clara untuk mengutarakan maksud mengajak Clara merantau, mendulang emas dan permata di tanah seberang. Tante Yulia mengatakan pekerjaan Clara tidak berat-berat amat hanya menjadi pelayan di restoran. Dan orang tua Clara mengijinkan, sebab Clarapun tak keberatan. Daripada ‘keluyuran kesana kemari’ begitu pikir orang tua Clara, maka tawaran pekerjaan dari tante Yulia dianggap sebagai cara yang tepat untuk Clara agar mulai berpikir tentang masa depannya.

Pergilah Clara ke tanah seberang bersama tante Yulia yang ternyata mengajak gadis-gadis lainnya. Sesampai di tanah seberang, tante Yulia menempatkan gadis-gadis di sebuah mess. Clara belum sempat melangkahkan kaki mengenali sekeliling, namun tante Yulia segera memerintahkan untuk beristirahat. Saat hari mulai gelap, tante Yulia datang membagikan pakaian, pakaian kerja katanya. Clara mematut diri dengan pakaian yang diberikan tante Yulia, ganjil rasanya, kenapa potongan roknya begitu tinggi sementara blusnya tak mampu menyembunyikan pusar di perutnya. Belum sempat Clara mengajukan tanya, tante Yulia sudah mengiringnya menelusuri lorong hingga masuk dalam ruangan yang tak terlalu terang namun hinggar binggar dengan suara musik berirama dag-dig-dug.

Clara bukanlah anak kecil yang tak tahu cerita tentang dunia malam. Dunia yang kini memerangkapnya, ternyata apa yang dimaksud dengan pelayan restoran tak lebih dari tipu daya manis tante Yulia untuk menjadikan dirinya sebagai pelayan meja, teman bagi tamu-tamu yang kebanyakan lelaki setengah baya menghabiskan malam ditemani botol-botol yang mengeluarkan aroma tak sedap ketika datang menyentuh hidung. Clara tak mungkin lagi lari, hanya bisa menerima kenyataan pahit, sepahit bir yang coba diteguknya untuk mengusir gundah gulana hatinya.

Clara segera menjadi buah bibir karena wajahnya yang rupawan, malam berganti malam tak pernah sepi tamu yang datang berebut untuk ditemaninya. Aneka rayu, janji manis kerap terlontar dari bibir tamunya yang tak terkontrol karena pengaruh alkohol dan Clara mulai terbiasa dengan semua itu, bahkan mulai pintar untuk memanfaatkannya demi mendapat tip yang berlipat-lipat.

Namun apalah arti uang dan pemberian para tamu-tamunya. Clara merasa hidupnya bagai terpenjara. Setiap kali bunyi telepon berdering, orang tuanya menanyakan kabar selalu saja ada yang harus disembunyikan. Orang tuanya di seberang tak tahu derita apa yang dialaminya, mereka hanya bersyukur karena setiap bulannya Clara selalu mengirimkan segepok uang dan juga pulsa.

Diam-diam Clara menyisihkan sebagian uangnya, ditabung agar suatu saat dia akan pulang untuk meneruskan pendidikannya. Namun lama kelamaan Clara tahu bahwa kisah bekerja sebagai pelayan restoran di tanah seberang adalah permainan kata-kata yang telah diketahui banyak orang di tanah asalnya. Hingga kemudian Clara memendam dalam cita-citanya untuk bersekolah kembali.

Pelayan restoran adalah cerita klise, lakon para perekrut tenaga pekerja perempuan untuk memenuhi kebutuhan industri hiburan di tanah seberang. Kisah yang terus saja masih berulang dan berulang, terus menerus menelan korban Clara-Clara yang lain hingga hari ini. Clara yang mulai tertidur kalau pagi menjelang, dikala orang lain sibuk bekerja, dalam kamar sempitnya Clara dipeluk kantuk, memenjamkan mata, terbenam dalam bantal berhias aneka boneka untuk melupakan kenangan malam yang memenjarakan dirinya.

Pondok Wiraguna, 7 Februari 2013

@yustinus_esha

Share This Post