Tokoh Lintas Iman se Indonesia Berkomitmen untuk Papua Tanah Damai

Laporan Sonny Thios Brant dari Konfrensi Nasional VI Jaringan Antariman Indonesia (JAII), Papua®

Papua Tanah Damai adalah cita-cita kemanusiaan yang harus diperjuangkan dengan kerja-kerja nyata. Karena itu Jaringan Antariman Indonesia (JAII) terpanggil mendukung segenap gagasan dan usaha-kerja agama-agama di Tanah Papua untuk mewujudkan Papua sebagai Tanah Damai. Komitmen ini sejalan dengan visi dan misi JAII: “agama-agama untuk keadilan dan perdamaian.” Sehingga, memilih penyelenggaraan Konferensi Nasional Jaringan Antariman Indonesia kali ini di Papua menjadi bagian pergumulan bersama mendorong cita-cita kemanusiaan tersebut.

Pembukaan Konfrensi Nasional VI Jaringan Antariman Indonesia (JAII), Papua
Pembukaan Konfrensi Nasional VI Jaringan Antariman Indonesia (JAII), Papua

Konferensi Nasional JAII yang menghadirkan berbagai organisasi dari berbagai wilayah di Indonesia yang bekerja pada isu hubungan antariman ini merupakan pertemuan keenam setelah pertemuan Malino, Sulawesi Selatan  (2002), Candi Dasa, Karangasem, Bali (2003), Banjar Baru, Kalimantan Selatan (2006), Yogyakarta (2008), dan Yogyakarta (2011).

Tema Konferensi Nasional VI JAII yang digelar di Hotel Sentani Indah, Jayapura, Papua, 19-23 Mei 2014 ini adalah Membangun, Merawat dan Memperkokoh Peradaban Luhur Bangsa dengan Dialog Transformatif. Sub-tema konferensi: Tantangan Konkrit menuju Keadilan, Kebenaran, Kesetaraan, Perdamaian bagi Seluruh Rakyat-Suku Bangsa Indonesia.

Terdapat empat isu pokok yang dibahas dalam konferensi tersebut, yakni pertama, Hubungan Agama-agama dan Keyakinan dengan Negara: kasus-kasus kebebasan beragama dan berkeyakinan. Kedua, Papua Tanah Damai: upaya agama-agama menciptakan Papua menjadi Tanah Damai. Ketiga, Pendidikan Karakter: membangun bangsa agar mampu menghadapi radikalisme beragama dan radikalisme keserakahan kekuasaan sosial-politik-ekonomi-budaya. Keempat, EKOSOB di Indonesia: respon atas perusakan alam/lingkungan dan budaya lokal.

JAII akan mendorong dan mengawal hasil konferensi agar digunakan dalam upaya pemerintah (eksekutif, legislatif, dan yudikatif) maupun masyarakat melakukan perubahan positif dan konkrit bagi keberlanjutan kehidupan bangsa ini. Sebab, seluruh proses konferensi nasional ini diorientasikan pada: eksplorasi dan perumusan solusi-solusi mendasar yang memberi efek jangka panjang positif dan konstruktif bagi hubungan antariman di Indonesia; memperluas dan memperkuat tanggungjawab JAII; memperkuat potensi JAII sebagai kekuatan bersama dari masyarakat, bersama masyarakat, untuk masyarakat, bangsa dan negara Indonesia.

Sehingga, di tengah upaya-upaya damai Papua dan keprihatinan situasi keberagaman bangsa ini yang tidak makin membaik, hasil konferensi nasional menjadi rekomendasi JAII yang paling penting untuk mendesak pemimpin-pemimpin terpilih dalam Pemilu 2014 dan terutama presiden terpilih agar lebih serius menciptakan Papua Tanah Damai dan berkomitmen menjalankan kewajiban negara untuk menghormati, melindungi, dan memenuhi hak-hak dan kebebasan beragama dan berkeyakinan setiap warga negaranya.

Konferensi Nasional VI JAII ini dirangkaikan dengan pemberian penghargaan kepada kepala daerah yang dianggap mampu menjaga dan menciptakan toleransi umat beragama di wilayahnya sesuai dengan garis Konstitusi bangsa ini. Penghargaan ini diharapkan memberi motivasi bagi upaya-upaya menciptakan Indonesia yang damai dan tanpa kekerasan, mengingat kekerasan atas nama agama sering kali muncul di Indonesia, dan dapat menginspirasi kepala daerah-kepala daerah lainnya untuk menegakkan Konstitusi dalam memfasilitasi perbedaan agama di wilayahnya.

”Terselenggaranya Konferensi Nasional VI JAII di Sentani, Jayapura, kali ini berkat kerjasama Forum Konsultasi Para Pemimpin Agama (FKKPA) di Tanah Papua dengan Institut Dialog Antariman di Indonesia (Institut DIAN/Interfidei),” kata Elga Sarapung, Koordinator JAII (***)

Share This Post